SNF mengembangkan riset pembiayaan film berbasis Web3 untuk membangun model investasi yang lebih transparan, terukur sejak awal, dan membantu mengelola risiko produksi film yang selama ini sulit diprediksi.
Industri film Indonesia makin produktif, tapi tantangan klasiknya masih sama: biaya produksi yang terus membengkak dan pendapatan box office yang nggak bisa ditebak. Akibatnya, investasi film sering terasa seperti taruhan besar.
Menjawab tantangan ini, PT Suka Nonton Film (SNF) mengembangkan riset pembiayaan film berbasis teknologi digital Web3. Tujuannya adalah membangun model investasi yang lebih transparan, rasional, dan terukur dari awal, bahkan sebelum film tayang.
Kenapa ini penting?
Selama ini, risiko investasi film sulit diprediksi karena sangat bergantung pada performa tiket bioskop. SNF melihat bahwa industri butuh cara baru untuk:
- Membuat alur pendanaan lebih jelas
- Mengatur kepemilikan investasi dengan lebih rapi
- Mengelola risiko secara lebih objektif
Dalam riset ini, SNF mengkaji penggunaan teknologi blockchain untuk memetakan elemen produksi film ke dalam ekosistem aset digital.
“Ketergantungan pada performa box office membuat industri film berada pada posisi yang sangat tidak pasti… kami ingin mencari pendekatan lain yang memungkinkan risiko investasi dikelola secara lebih rasional dan transparan.” — Dio, Manajer SNF
Tahap riset saat ini
SNF saat ini masih berada di fase pengumpulan data dan simulasi model pembiayaan, dengan fokus menyusun struktur keuangan agar:
- Pendanaan lebih tertata
- Kepemilikan dapat dipetakan jelas
- Risiko lebih mudah dinilai dan dikelola
Pendiri SNF, Tegar Syahranu, menyebut pendekatan ini lahir dari semangat inovasi dan mitigasi risiko, dengan harapan dapat menjadi kontribusi nyata untuk penguatan ekosistem perfilman nasional.
Source
Sumber: detikHot — Movie & TV
Baca versi lengkap: https://hot.detik.com/movie/d-8277106/tips-agar-biaya-film-gak-membengkak-dan-menghasilkan
Disclaimer
Artikel ini merupakan ringkasan editorial berdasarkan sumber eksternal. Seluruh hak cipta konten asli dimiliki oleh penerbit terkait.