Project Hail Mary ngebuka cerita dari ancaman yang pelan-pelan bikin panik seluruh dunia: Matahari mulai meredup, dan kalau dibiarkan, Bumi bisa masuk ke zaman es dalam 30 tahun. Ini bukan lagi soal teori atau prediksi berlebihan. Umat manusia benar-benar ada di ujung krisis, dan waktu terus jalan tanpa kompromi.
Di tengah situasi itu, muncul Ryland Grace, mantan ahli biologi molekuler yang hidupnya udah belok jauh jadi guru SMP. Harusnya dia jauh dari pusat penyelamatan dunia, tapi semuanya berubah ketika ditemukan mikroba alien misterius yang jadi biang masalah. Grace menamai organisme itu Astrophage, makhluk bersel satu yang bisa “memakan” radiasi dan diam-diam ngancem banyak bintang, termasuk Matahari.
Di saat semua harapan makin tipis, para ilmuwan menemukan satu petunjuk penting: ada satu bintang yang tetap aman, Tau Ceti. Dari situlah lahir misi gila bernama Hail Mary, kapal luar angkasa yang dikirim untuk mencari jawaban ke sana. Masalahnya, misi ini praktis jadi tiket sekali jalan. Nggak ada jaminan pulang, nggak ada ruang buat ragu, dan Grace yang awalnya bukan orang yang pengen jadi pahlawan, akhirnya dipaksa ikut ke perjalanan yang bisa jadi akhir hidupnya sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, Grace bangun sendirian di dalam pesawat, tanpa ingatan utuh tentang siapa dia dan kenapa ada di sana. Dua rekan misinya udah mati, dan yang tersisa cuma kebingungan, kesepian, dan tanggung jawab yang terlalu besar buat satu orang. Tapi di tengah luasnya luar angkasa, Grace justru menemukan sesuatu yang nggak pernah dia bayangin: kehidupan lain.
Pertemuannya dengan Rocky, makhluk alien dari sistem bintang lain yang juga sedang berjuang menyelamatkan dunianya, jadi titik paling menarik dari cerita ini. Dua makhluk dari dunia berbeda, bahasa berbeda, cara berpikir berbeda, tapi sama-sama lagi berusaha menyelamatkan rumah mereka. Dari situ, film ini nggak cuma soal sains dan misi luar angkasa, tapi juga tentang persahabatan yang lahir di tempat paling sepi di semesta.
Project Hail Mary adalah sci-fi yang ngebungkus kiamat dalam bentuk petualangan cerdas, menegangkan, tapi juga surprisingly hangat. Tentang manusia biasa yang dipaksa jadi harapan terakhir, dan tentang fakta bahwa kadang, yang nyelametin dunia bukan cuma keberanian… tapi kemampuan buat percaya sama orang yang bahkan nggak berasal dari planet yang sama. 🌌✨